Samir Batman Handanovic: Jadi Kapten Inter Adalah Kehormatan & Tanggung Jawab Besar

Dalam sebuah wawancara dengan Chanel Youtube resmi Serie A, kiper dan kapten Inter Milan, Samir Handanovic telah berbicara tentang berbagai topik, pertama-tama ia mengupas asal usul julukannya, Batman.

“Mereka memanggil saya Batman dan saya suka Julukan tersebut. Ide itu muncul setelah pertandingan derby Milano lima atau enam tahun yang lalu,” Handa memulai sebelum melanjutkan untuk membahas bagaimana ia menjadi seorang penjaga gawang.

“Saya jatuh cinta dengan kiper karena sepupu saya. Dia enam tahun lebih tua dariku. Saya biasa pergi dan menonton dia bermain dan begitulah semuanya dimulai.”

“Ketika saya datang ke Udinese dan Serie A, itu seperti mimpi bagi saya. Tentu saja, pada awalnya itu sulit. Saya tidak tahu bahasa Italia dan mengalami kesulitan. Namun saya beruntung karena Udine dan Ljubljana hanya berjarak 170 kilometer sehingga seminggu sekali saya pulang dan saya bisa melupakan semua masalah saya.”

“Sepak bola sangat mirip dengan catur di mana Anda harus memikirkan strategi, bagaimana menyerang, bagaimana bertahan. Saya pikir ada banyak kesamaan.”

Dia kemudian ditanya apa saja penyelamatan favorit yang telah dia buat selama karirnya.

“Jika saya harus memilih tiga penyelamatan terbaik saya, pertama saya akan mengatakan saat melawan Bologna. Saya menangkis tembakan dan memblok Acquafresca saat rebound. Tapi yang paling indah adalah di Palermo atas upaya dari Miccoli. Lalu ada penyelamatan di laga derby Milan tahun lalu dari Calhanoglu. Tendangan bebas melebar, semua orang melewatkan bola dan saya harus mengulurkan tangan ke kiri. Itu adalah penyelamatan yang sangat sulit.

Selanjutnya dia berbicara tentang menjadi kapten Inter.

“Menjadi kapten Inter adalah suatu kehormatan dan tanggung jawab besar bagi saya. Saya harus memberikan contoh yang baik untuk semua pemain. Kadang-kadang Anda harus mengambil keputusan sulit dan terpaksa melawan rekan satu tim, tetapi Anda harus bersikap adil yang merupakan bagian tersulit untuk dicapai.”

Dia menyimpulkan dengan berbicara mengenai pertandingan antara Inter Milan dengan Parma.

“Ketika Inter bermain di San Siro, kami selalu menjadi favorit, tetapi pengalaman masa lalu memberi tahu kami bahwa jika kami pikir itu mudah, maka kami akhirnya kalah. Antara tahun ini dan tahun lalu, saya kira Parma tidak banyak berubah.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*